Tampilkan postingan dengan label Ta'lim Muta'alim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ta'lim Muta'alim. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Desember 2013

Fasal Menerangkan Waktu yang Menghasilkan Ilmu


Fasal Menerangkan Waktu yang Menghasilkan Ilmu السلام عليكم ورحمة الله وبركاته حمدا وشكرا لله الصلاة والسلام على رسول الله لاحول ولاقوة الا بالله امابعده Fasal ini merupakan bagian dari fasal-fasal kitab ta’limul muta’allim karya Imam Az-zarnuji dan didalam fasal ini akan di bahas waktu-waktu yang dapat menghasilkan ilmu. Di ucapkan :waktu untuk menuntut ilmu itu tidak terbatas yaitu mulai dari bandulan(saat bayi) sampai mati masuk kubur. Syaikh Hasan Bin Ziyad belajar ilmu fiqih saat beliau berumur 80 tahun ,beliau tidak pernah tidur memakai alas itu selama 40 tahun. Akhirnya beliau duduk di kursi kefatwaan (Sebagai Ulama’ fatwa) selama 40 tahun . Adapun waktu-waktu yang utama untuk menghasilkan ilmu itu ketika masih muda, waktu sahur dan waktu di antara dua isya’ (antara maghrib dan isya’). Seyogyanya Tholibul Ilmi(murid/siswa/mahasiswa) menghabiskan waktunya untuk belajar. Ketika ia bosan dari salah satu ilmu maka sibukkan dengan belajar ilmu yang lain. Sahabat Ibnu Abbas R.A ketika beliau bosan dengan ilmu kalam maka beliau berkara : “Ambilkan aku kitab-kitab syi’iran” . Syiakh Muhammad Bin Hasan beliau tidak pernah tidur di waktu malam. Beliau menghadap kitab yang bermacam-macam. Setiap beliau bosan dengan suatu macam kitab beliau mengganti dengan kitab yang lain. Beliau senantiasa meletakkan air di hadapannya, beliau menghilangkan tidurnya dengan air (wudhu atau cuci muka untuk menghilangkan ngantuk) dan beliau berkata: “Tidur itu bagian daru panas maka dari itu harus di tolak dengan air yang dingin.” Sekian, sampai jumpa di fasal selanjutnya semoga bermanfa’at. Terimakasih telah membaca. و الله الموفق الى اقوم الطريق والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Fasal Menerangkan Tentang Penjelasan Awal Belajar, Kadar Belajar dan Urutan Belajar


Fasal menerangkan tentang penjelasan awal belajar, kadar belajar dan urutan belajar السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله ، الصلاة والسلام على رسول الله اما بعده Pada kali ini kita akan membahas tentang cara yang baik dalam mengawali belajar, kadar belajar, dan urut-urutan belajar. Hal itu merupakan hal yang paling penting karena menjadi sebab seorang murid memperoleh ilmu. قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ما من شيئ بدئ في يوم الالبعاء الا وقد تم«» Rasulullah bersabda : “Tidak ada perkara yang di awali di hari rabu kecuali Allah akan menyempurnakan perkara tersebut”. Maksutnya semua perkara yang di awali pada hari rabu itu pasti baik. Adapun kadar dalam mengawali belajar itu seperti yang diceritakan oleh Abu Hanifah dari gurunya : "Seyogyanya bahwasannya mengawali belajar itu sekiranya waktu itu cukup untuk mengulang dua kali, selanjutnya setiap hari ditambah satu kalimat misalnya, walaupun waktunya panjang, banyak, dan memungkinkan untuk mengulangi lagi dua kali, dan seterusnya dengan pelan-pelan dan sedikit-sedikit”. Dikatakan : “Belajar satu huruf mengulangnya itu seribu kali. Seyogyanya seorang murid itu senantasa menulis pelajaran yang terdahulu dan mengulang-ulang. Sesungguhnya itu sangat bermanfaat sekali. Seorang murid tidak menulis sesuatu yang dia tidak faham karena itu mewariskan tumpulnya otak, menghilangkan kecerdasan, dan menyia-nyiakan waktu. Ketika murid menganggap mudah suatu pelajaran dan dia tidak mengulanginya satu kali atau dua kali sehingga itu menjadi kebiasaan maka ia tak akan faham kalimat sedikitpun. Seyogyanya seorang murid senantiasa bersungguh-sungguh, berdoa kepada Allah dan berendah diri kepada Allah karena sesungguhnya Allah mengabulkan seseorang yang berdoa kepada Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan seseorang yang berharap kepada Allah. Wajib bagi murid beradu ingatan dan beradu nalar karena misalnya musyawarah. Musyawarah itu akan mengeluarkan kebenaran. Seyogyanya bagi murid senantiasa menggunakan semua waktunya untuk mengangan-angan lembutnya ilmu dan membiasakan itu. Ketika seorang murid wajib bekerja untuk menafkahi keluarganya maka bekerjalah dan ulangilah pelajaran yang didapatkan dan janganlah malu. Seyogyanya bagi murid menyibukkan dirinya dengan bersyukur dengan lisan , hati serta dibuktikan dengan kekuatan dan hartanya serta beranggapan bahwa kefahaman dan ilmu itu dari Allah SWT. Sekian semoga bermanfa.at terimakasih. والله اعلم بالصواب ، والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Fasal Menerangkan Tawakal


Fasal Menerangkan Tawakal السلام عليكم ورحمة الله وبركاته حمدا و شكرا لله الصلاة و السلام على رسول الله وعلى اله ومن ولىه لا حول ولا قوة الا بالله اما بعده Pada fasal ini akan membahas tentang bertawakal. Wajib bagi murid untuk senantiasa bertawakal. Di dalam mencari ilmu itu jangan menghawatirkan rizqi. Hatinya jangan sampai sibuk memikirkan soal rizqi. Imam Abu Hanifah meriwayatkan hadist dari salah satu sahabatnya : “ قال رسول الله : من تفقه في دين الله كفىا ه الله همه ورزقه من حيث لايحتسب “ artinya : “Barang siapa mengerti tentang agama Allah maka Allah akan mencukupi(memenuhi)nya meliputi keinginannya dan rizqinya sekiranya orang itu tidak mengira itu”. Sesungguhnya seseorang yang hatinya sibuk dengan rizqi berupa makanan dan pakaian maka sedikit sekali orang tersebut memperoleh akhlak yang mulia dan perkara yang luhur. Di sebutkan : “ دع المكارم لا ترحل لبغيتها “ Artinya : "jauhilah kemulyaan dan kemewahan tidak perlu mencari kemewahan". Wajib bagi seorang murid menyedikitkan perkara yang menghalangi keduniawian dengan kadar kekuatannya, oleh karena itu Para Ulama' memilih mondok. Wajib bagi seorang murid harus tahan dalam menghadapi kesulitan dan keberatan dalam mencari ilmu. Mencari ilmu itu lebih utama dari pada peperangan menurut Para Ulama'. Pahala itu tergantung dengan kadar kesulitannya. Barang siapa bersabar atas semua itu (kesulitan dan kepayahan) maka akan menemukan nikmatnya ilmu mengalahkan kenikmatan dunia. Seyogyanya bagi Ahli Fiqih menyibukkan dirinya dalam semua waktunya maka dalam kesibukannya itu dia akan menemukan kenikmatan yang agung. Diceritakan setelah kiyai Muhammad wafat ada seseorang bermimpi bertemu beliau. Orang tersebut bertanya : “Seperti apa syekh saat naza'(sakaratul maut)?”. Beliau berkata : “Saya ketika itu sedang berfikir tentang ilmu fiqih tentang budak mukatab. Saya tidak terasa keluarnya ruhku. Diucapkan : sesungguhnya syeikh Muhammad berkata di akhir hidupnya beliau sibuk masalah budak mukatab sehingga beliau tidak siap sedia untuk wafat. Beliau berkata seperti itu karena beliau tawadhu'. Sekian semoga bermanfaat. والله الموفق الى اقوم الطريق والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Fasal menerangkan Kesungguhan, Kontinuitas dan Cita-cita luhur


Fasal menerangkan Kesungguhan, Kontinuitas dan Cita-cita luhur
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Alhamdulillahi fadldlola bani 'adam bil'ilmi wal 'amal 'ala jami'il 'alam. Assholatu Wassalamu 'ala Sayyidina wa Habbina Muhammad Saw. Fasal-fasal dalam kategori "" selalu berkelanjutan antara posting-posting yang lain. Pada fasal ini membahas tentang kesungguhan, belajar secara berkelanjutan dan cita-cita yang luhur. Kesungguhan, berkelanjutan itu wajib bagi Tholibul 'ilmi (murid) seperti firman Allah SAW "والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا" artinya: "orang orang yang bersungguh-sungguh dalam (memperoleh 'ilmu supaya dekat dengan)ku sungguh akan aku tunjukkan bagi mereka jalan-jalanku". Barang siapa mencari suatu perkara dan ia bersungguh-sungguh maka ia akan menemukannya dan barang siapa mengetuk pintu perkara yang di tuju maka ia akan mengetuk apa yang dia tuju. Di ucapkan : Di butukan dalam belajar dan mengetahui 'ilmu fiqih murid, guru dan bapak ketika bapak masih hidup. Di ucapkan "kamu ingin menjadi orang yang 'alim dalam ilmu agama dan ahli bicara dengan kamu tidak mau belajar keinginan itu adalah keinginan orang gila karena orang gila itu bermacam-macam. Di ucapakan lagi "Barang siapa tidak tidur semalam maka hatinya akan bahagia di waktu siang. Wajib bagi seorang murid senantiasa menekuni (kontinuitas) dalam belajar dan mengulang-ulang di awal malam dan akhir malam karena waktu di antara maghrib dan waktu sahur itu waktu yang di berkahi. Di ucapkan dalam syi'ir yang artinya seperti ini " Hai Tholibul 'ilmi (murid) lakukanlah wira'i jauhilah tidur, waspadalah terhadap kenyang, lakukanlah belajar, dan jangan sampai kamu tidak menetapkan belajar karena ilmu bisa tetap dan bertambah di karenakan belajar. Seorang murid sebaiknya menggunakan waktu muda untuk belajar. Seorang murid jangan sampai membuat dirinya payah dan kesulitan yang sangat, tapi juga jangan terlalu lembek yang sehingga tidak mau melakukan itu. Sebaiknya melakukan dengan pelan-pelan, karena sesungguhnya pelan-pelan itu pokok yang sangat besar dari setiap perkara apapun. Sabda Rasulullah : " Nafsumu itu kendaraanmu maka pelan-pelanlah dan hati-hatilah kamu dalam mengendarai nafsumu". Bagi seorang murid cita-cita yang luhur dalam ilmu itu harus. Setiap orang itu terbang dengan cita-citanya dan burung terbang dengan sayapnya. Syaikh Abu thoyyib berkata : " Orang yang mempunyai cita-cita itu mendapatkan apa yang di cita-citakan. Orang yang cita-citanya kemuliaan yang luhur. Hasilnya juga kemuliaan yang luhur, besar atau kecil jangkauan itu bisa di lihat dari dhohirnnya (luarnya). Pokok dalam berhasil adalah bersungguh-sungguh dan cita-cita yang luhur. Sekian, sampai jumpa di fasal selanjutnya INSYA ALLAH والسلام عليكم ورحمةالله وبركاتة

Senin, 29 April 2013

Fasal mengagungkan ilmu dan ahli ilmu


Fasal mengagungkan ilmu dan ahli ilmu Assalamu’alaikum wr.wb Alhamdulillah , ashholatu wassalamu’ala Rasulillah wa’alhi washohbih, amma ba’du. Pada bab ini menerangkan bagaimana mengagungkan guru?? Dan bagaimana pula mengagungkan ilmu??. Simaklah penjelasan berikut. Ketahuilah sesungguhnya tholibul’ilmi (murid) tidak akan pernah memperoleh ilmu dan tidak akan pernah memperoleh manfa’at ilmu kecuali dia mengagungkan ilmu dan ahli ilmu dan mengagungkan guru. Dikatakan seseorang bisa mencapai apa yang dia inginkan karena menghormati dan mengindahkan. Begitu juga sebaliknya seseorang terjatuh dari kedudukannya karena dia tidak mengindahkan atau menyeplekan. Diucapkan lagi hormat itu lebih bagus dari pada tha’at. Ingatlah sesungguhnya manusia itu tidak kufur karena maksiat (berbuat dosa). Sesunggunya manusia itu kufur karena meninggalkan hormat. Termasuk bagian dari mengagungkan ilmu dan guru adalah ucapan yang diucapkan oleh shohabat ‘Ali karramallahu wajhahu: “Saya siap menjadi budaknya orang yang telah mengajarkanku satu huruf saja. Ketika orang itu berkeinginan menjual saya maka boleh, ketika orang itu berniat memerdekakan atau menetapkan menjadi budak maka boleh. Ingatlah sesungguhnya orang yang telah mengajarkan kamu satu huruf saja dari perkara yang kamu butuhkan dalam agama maka beliau adalah bapakmu dalam urusan agama. Termasuk mengagungkan guru adalah murid tidak berjalan di depan guru, tidak duduk di tempat guru, tidak mengawali pembicaraan dihadapan guru kecuali mendapat izin dari guru. Seorang murid tidak boleh memperbanyak omongan di hadapan guru dan tidak pula bertanya sesuatu ketika guru kurang berkenan. Murid harus menjaga waktu tidak mengetuk pintu tapi bersabarlah sehingga guru keluar. Termasuk mengagungkan ilmu adalah mengagungkan kitab (buku). Seyogyanya murid tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci karena sesungguhnya ilmu itu cahaya dan wudhu juga cahaya, jadi bertambah cahayanya ilmu dengan wudhu. Termasuk mengagungkan ilmu adalah murid tidak meluruskan kakinya pada kitab dan meletakkan kitab tafsir diatas kitab kitab lain untuk mengagungkan . Seorang pelajar tidak meletakkan kitab di atas perkara lain. Sekian fasal ini sebetulnya masih sangat banyak lagi tapi berhubung page-nya terbatas. Semoga beramafaat. Wassalamu alaikum wr.wb.